M.WIDIARTA:Jangan Sampai Menyesal! Warisan Raksasa Bumi Melayu Ini Taruhannya Jika Kita Abai Hari Ini!!

BUDAYA

RIAU -Pelestarian budaya di Provinsi Riau—sebagai pusat Bumi Melayu—kini berfokus pada digitalisasi warisan takbenda, integrasi muatan lokal di sekolah, dan revitalisasi panggung pertunjukan tradisional. Upaya sistematis ini berjalan beriringan dengan keterbukaan masyarakat Melayu Riau dalam menerima, mengadaptasi, dan mengembangkan kesenian bawaan dari luar daerah hingga menjadi bagian kekayaan budaya lokal.

Urgensi dan Strategi Pelestarian Budaya Melayu Riau

Masyarakat Riau memegang teguh filosofi “Adat bersendikan Syarak, Syarak bersendikan Kitabullah.” Secara historis, filosofi “Adat bersendikan Syarak, Syarak bersendikan Kitabullah” (ABS-SBK) tidak murni berasal dari Melayu Riau, melainkan berakar kuat dari kebudayaan Minangkabau (Sumatera Barat), Falsafah ini lahir dari kesepakatan sejarah yang monumental antara kaum adat dan kaum ulama Minangkabau melalui Piagam Bukit Marapalam pada abad ke-19 untuk mendamaikan Perang Padri, Meskipun lahir di Minangkabau, filosofi ini diadaptasi secara luas dan kini telah menjadi falsafah identitas resmi masyarakat Melayu Riau, Jambi, Kepulauan Riau, hingga Semenanjung Malaya.

Mengapa Kebudayaan Melayu Riau Menggunakannya?

  • Asimilasi Budaya dan Agama: Masyarakat Melayu memiliki kedekatan geografis dan kultural yang sangat erat dengan wilayah Minangkabau (terutama melalui jalur sungai dan perdagangan).
  • Islam sebagai Identitas Melayu: Dalam dunia Melayu, “masuk Melayu” secara tradisional berarti memeluk agama Islam. Kesamaan pandangan bahwa adat harus sejalan dengan hukum Islam membuat falsafah ABS-SBK diadopsi secara total ke dalam adat Melayu Riau.
  • Slogan Resmi Lembaga Adat: Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau menggunakan ungkapan ini sebagai pedoman moral dan konstitusi adat dalam menjaga marwah Bumi Lancang Kuning.

Untuk menjaga nilai-nilai tersebut dari pergeseran zaman, pemerintah daerah bersama lembaga adat menempuh tiga strategi utama:

  • Pendidikan Formal: Penerapan kurikulum Muatan Lokal (Mulok) Budaya Melayu Riau (BMR) di seluruh jenjang sekolah.
  • Digitalisasi Seni: Pendokumentasian sastra lisan seperti Seni Berzanji, Nyanyian Panjang, dan Pantun ke dalam format digital.
  • Festival Tahunan: Penyelenggaraan rutin Festival Sastra Sungai Jantan dan Riau Cultural Festival untuk wadah ekspresi seniman muda.
  • Perlindungan Hukum: Pengusulan aktif Warisan Budaya Takbenda (WBTb) ke Kementerian Kebudayaan demi pengakuan hukum nasional.

Wawancara Khusus: Menjaga Denyut Nadi Kerajaan Nusantara di Riau

Untuk mendalami urgensi pelestarian ini, kami mewawancarai M. Widiarta, S.T., tokoh peduli budaya sekaligus Ketua Yayasan Kiandra Setia Bangsa. Beliau memaparkan pandangan strategis mengenai masa depan adat Bumi Melayu:

Bagaimana Anda melihat kondisi pelestarian tradisi di Riau saat ini?
“Penting sekali kita menyadari bahwa pelestarian budaya dan tradisi daerah adalah tanggung jawab kolektif. Hal ini seharusnya diinsafi oleh masing-masing anak keturunan kerajaan yang ada di Bumi Melayu Riau, seperti keturunan Kerajaan Siak, Kerajaan Air Tiris, Kerajaan Gunung Sahilan, dan kerajaan-kerajaan lain yang jejaknya masih ada. Selain itu, Lembaga Adat dan instansi Pemerintah di masing-masing jenjang pemerintahan wajib hadir. Kebudayaan sebesar ini masih bertahan di depan mata kita. Kalau kita abai hari ini, maka suatu saat nanti semua anak cucu kita akan menyesal.”

Apa peran nyata yang diambil oleh Yayasan Kiandra Setia Bangsa?
“Yayasan Kiandra Setia Bangsa dalam Program Kerja Sosialnya menempatkan pelestarian adat dan budaya sebagai pilar utama. Kami sangat konsern dengan isu-isu budaya ini karena dari seluruh provinsi di Pulau Sumatera, mungkin Riau yang memiliki adat dan budaya paling lengkap serta variatif.”

Mengapa Riau bisa disebut sebagai provinsi dengan kebudayaan paling lengkap?
“Ini fakta sejarah yang indah. Leluhur kita dulu datang dari berbagai penjuru—Jawa, Madura, Bali, Bugis, Banjar, hingga Flores—lalu merantau dan menetap di Bumi Melayu Riau. Setelah mereka membentuk komunitas, untuk melepas rasa kangen pada kampung halaman, mereka menghidupkan kembali kesenian daerah asal mereka. Kesenian bawaan itu nyata, bertahan, dan berkembang dengan sangat baik di sini.”

Bisakah Anda memberikan satu contoh konkret dari akulturasi tersebut?
“Salah satu contoh nyata adalah Paguyuban Reog Ponorogo ‘Singo Taruno’ yang bermarkas di Kulim. Mereka berkembang sangat pesat, sering tampil di acara-acara resmi Pemerintah maupun lembaga adat Melayu. Bahkan pada tahun 2016, paguyuban dari Kulim ini resmi mewakili Provinsi Riau dalam gelaran nasional Festival Grebeg Suro di Ponorogo. Luar biasa, bukan? Nah, momentum seperti ini yang harus kita jaga. Mari kita bersama-sama melestarikan budaya mulai dari hal kecil terlebih dahulu.”

Menilik Sejarah Kepemimpinan Tiga Kerajaan Besar di Riau

Pernyataan M. Widiarta, S.T. mengenai pentingnya peran anak keturunan kerajaan di Riau berakar pada sejarah panjang kepemimpinan lokal yang pernah berjaya di Bumi Melayu. Berikut adalah sekilas sejarah kepemimpinan dari tiga kerajaan tersebut:

  • Kesultanan Siak Sri Indrapura: Didirikan pada tahun 1723 oleh Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah (Raja Kecik) setelah pergolakan di Kesultanan Johor. Kerajaan maritim yang kuat ini dipimpin oleh 12 orang sultan dari dua dinasti (Dinasti Raja Kecik dan Dinasti Siak). Puncak kejayaan dan modernisasinya terjadi di bawah kepemimpinan Sultan Syarif Kasim II, sultan terakhir yang dengan ikhlas menyerahkan kedaulatan kerajaannya beserta kekayaan sebesar 13 juta gulden kepada Republik Indonesia yang baru merdeka.
  • Kerajaan Air Tiris (Kampar): Berakar dari peradaban Melayu Tua di sepanjang aliran Sungai Kampar, kepemimpinan di Air Tiris sangat dipengaruhi oleh sistem adat Tigo Koto dan hubungan erat dengan institusi keadatan (Persukuan). Kepemimpinannya dijalankan oleh para Ninik Mamak dan Datuk Besar yang mengatur tata laksana sosial-keagamaan. Salah satu warisan kepemimpinan berbasis religius yang masih tegak berdiri adalah Masjid Jami’ Air Tiris yang dibangun secara gotong royong tanpa paku pada tahun 1901.
  • Kerajaan Gunung Sahilan (Kampar Kiri): Didirikan sekitar abad ke-16 hingga ke-17, kerajaan ini merupakan pecahan atau perpanjangan tangan dari Kerajaan Pagaruyung untuk mengontrol jalur perdagangan di Kampar Kiri. Kepemimpinannya menganut sistem monarki adat dengan gelar Yang Dipertuan Besar. Sempat mengalami masa vakum yang panjang setelah kemerdekaan RI, struktur adat kerajaan ini berhasil direvitalisasi kembali dengan penobatan Tengku Muhammad Nizar sebagai Yang Dipertuan Besar Kerajaan Gunung Sahilan ke-XII pada tahun 2017 silam.

Kesenian Bawaan dari Luar yang Berkembang di Riau

Keterbukaan para pemimpin dan masyarakat adat Melayu di masa lalu dalam menerima pendatang turut membentuk lanskap kebudayaan Riau hari ini. Beberapa kesenian bawaan yang kini tumbuh subur di antaranya:

  • Kesenian Reog Ponorogo (Jawa): Seperti eksistensi paguyuban Singo Taruno Kulim, kesenian ini berakar kuat di Riau dan menjadi simbol keharmonisan antara masyarakat transmigran dengan masyarakat tempatan.
  • Tari Persembahan / Tari Piring (Minangkabau): Kedekatan geografis membuat gerakan tari berbasis pencak silat ini kerap berkolaborasi dengan musik Melayu di wilayah perbatasan seperti Kampar dan Kuantan Singingi.
  • Barongsai dan Musik Tionghoa: Berkembang pesat di wilayah pesisir seperti Bagansiapiapi (Rokan Hilir) dan Selatpanjang (Kepulauan Meranti), berbaur harmonis dalam perayaan budaya lokal seperti Festival Bakar Tongkang.
  • Kesenian Kuda Lumping: Menjadi hiburan rakyat yang populer di kawasan perkebunan sawit, sering dipadukan dengan instrumen musik Melayu seperti kendang dan gong dalam beberapa festival komunitas.

Dampak Positif Akulturasi Budaya

Keterbukaan Bumi Melayu terhadap kesenian luar tidak melunturkan identitas asli, melainkan memperkaya khazanah seni daerah. Proses adaptasi ini melahirkan harmoni sosial, memperkuat toleransi antar-etnis, dan meningkatkan daya tarik sektor pariwisata budaya di Provinsi Riau.(Yayasan Kiandra Setia Bangsa

Kontak Media:
Tim Publikasi & Humas Yayasan Kiandra Setia Bangsa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *