PEKANBARU – Yayasan Kiandra Setia Bangsa menilai kebijakan anggaran pendidikan di Indonesia perlu mengalami perubahan paradigma dengan memberikan perhatian yang lebih besar terhadap kesehatan mental peserta didik, pencegahan perundungan (bullying), serta pembangunan ekosistem sekolah yang ramah anak.

Selama ini, alokasi anggaran pendidikan di tingkat pusat maupun daerah masih didominasi oleh pembangunan infrastruktur sekolah, pengadaan sarana pembelajaran, serta pemenuhan kesejahteraan tenaga pendidik. Meskipun aspek tersebut merupakan kebutuhan yang penting, Yayasan Kiandra Setia Bangsa menilai masih terdapat kebutuhan mendasar yang belum memperoleh perhatian secara proporsional, yakni perlindungan psikologis peserta didik.

Ketua Umum Yayasan Kiandra Setia Bangsa, Mulyono Widiarta, S.T., mengatakan bahwa keberhasilan pendidikan tidak dapat diukur hanya melalui pembangunan fisik sekolah ataupun peningkatan fasilitas pembelajaran.

“Gedung sekolah yang megah dan fasilitas digital yang modern tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila peserta didik datang ke sekolah dengan rasa takut, mengalami tekanan psikologis, atau menjadi korban perundungan. Keselamatan psikologis anak harus menjadi bagian dari prioritas kebijakan pendidikan,” ujarnya.

Perundungan Masih Menjadi Ancaman Nyata

Sebagai gambaran kondisi yang masih terjadi di lingkungan pendidikan, Yayasan Kiandra Setia Bangsa mengangkat sebuah studi kasus mengenai seorang siswa kelas VII berusia 13 tahun di salah satu SMP Negeri di kawasan perkotaan Provinsi Riau.

Siswa yang dikenal memiliki prestasi akademik tersebut mengalami perundungan secara berulang selama lebih dari empat bulan. Bentuk kekerasan yang diterima meliputi ejekan verbal, pengucilan dalam kelompok belajar, penghinaan terhadap kondisi fisik, hingga perundungan melalui media digital atau cyberbullying di grup percakapan kelas maupun media sosial.

Dampaknya tidak hanya menurunkan prestasi belajar secara signifikan, tetapi juga memicu gangguan psikologis berupa kecemasan berat, serangan panik saat hendak berangkat ke sekolah, hingga menarik diri dari lingkungan sosial. Pada akhirnya, orang tua memutuskan memindahkan anaknya ke sekolah lain karena korban menolak melanjutkan pendidikan di lingkungan yang dianggap tidak aman.

Menurut Yayasan Kiandra Setia Bangsa, kasus seperti ini menunjukkan bahwa perundungan tidak dapat dipandang sebagai pelanggaran disiplin biasa, melainkan persoalan serius yang berpotensi menghambat tumbuh kembang anak dan meningkatkan risiko putus sekolah.

Penanganan Masih Bersifat Reaktif

Evaluasi terhadap penanganan kasus tersebut menunjukkan bahwa sekolah baru melakukan tindakan setelah orang tua menyampaikan laporan resmi. Selain itu, mekanisme deteksi dini belum berjalan optimal karena bentuk perundungan yang terjadi lebih banyak berupa pengucilan sosial dan kekerasan verbal yang sulit terpantau.

Penyelesaian juga cenderung berhenti pada mediasi antara kedua belah pihak melalui surat pernyataan damai, tanpa disertai proses pemulihan psikologis bagi korban maupun pembinaan perilaku terhadap pelaku secara berkelanjutan.

Kondisi tersebut dinilai masih menjadi tantangan yang banyak dijumpai di berbagai satuan pendidikan di Indonesia.

Program Pencegahan Perlu Dilaksanakan Secara Sistematis

Sebagai solusi, Yayasan Kiandra Setia Bangsa menyoroti penerapan Program Roots, sebuah program pencegahan perundungan yang dikembangkan melalui kolaborasi UNICEF dan Kementerian Pendidikan.

Program tersebut mengedepankan pendekatan preventif melalui pembentukan agen perubahan dari kalangan peserta didik, penyediaan kanal pengaduan yang aman dan menjaga kerahasiaan pelapor, serta pembangunan budaya sekolah yang menolak segala bentuk kekerasan melalui komitmen bersama seluruh warga sekolah.

Pendekatan ini dinilai lebih efektif karena melibatkan siswa sebagai bagian dari solusi sekaligus memperkuat sistem deteksi dini terhadap berbagai bentuk perundungan yang selama ini sering tidak teridentifikasi.

Kesehatan Mental Perlu Menjadi Prioritas Anggaran Pendidikan

Menurut Mulyono Widiarta, pembangunan pendidikan yang berkualitas tidak cukup hanya menyediakan ruang kelas yang nyaman atau teknologi pembelajaran yang modern. Pemerintah daerah juga perlu mengalokasikan anggaran khusus untuk memperkuat layanan kesehatan mental di sekolah.

Anggaran tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas guru Bimbingan dan Konseling (BK), menyediakan layanan psikolog sekolah, pelatihan Mental Health First Aid, hingga penyelenggaraan program pendidikan karakter dan pencegahan kekerasan yang berkesinambungan.

“Gedung sekolah yang kokoh tidak ada artinya apabila suasana belajar tidak memberikan rasa aman bagi anak-anak. Anggaran pendidikan harus hadir untuk mendukung sistem pencegahan perundungan yang terstruktur, mulai dari pelatihan guru hingga program intervensi bagi peserta didik,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa indikator keberhasilan pendidikan seharusnya tidak hanya diukur dari tingkat penyerapan anggaran ataupun angka kelulusan, tetapi juga dari sejauh mana peserta didik merasa aman, dihargai, dan bahagia selama menjalani proses belajar.

Rekomendasi Kebijakan

Sebagai bentuk kontribusi terhadap pembangunan pendidikan nasional, Yayasan Kiandra Setia Bangsa menyampaikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah daerah, antara lain:

  • Mengalokasikan anggaran khusus dalam APBD untuk program kesehatan mental dan pencegahan perundungan di sekolah.
  • Membangun kemitraan dengan perguruan tinggi, akademisi, dan organisasi profesi psikologi dalam menyusun pedoman penanganan kekerasan berbasis kajian ilmiah.
  • Mengembangkan sistem pelaporan kekerasan dan perundungan yang mudah diakses, aman, serta menjamin kerahasiaan identitas pelapor.
  •  Memperkuat pembentukan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK) di setiap satuan pendidikan.
  • Mengembangkan ekosistem sekolah yang benar-benar ramah anak melalui pendidikan karakter, ruang aman bagi peserta didik, serta penguatan budaya saling menghormati.

Investasi Jangka Panjang bagi Generasi Bangsa

Yayasan Kiandra Setia Bangsa menegaskan bahwa investasi pada kesehatan mental peserta didik merupakan investasi jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Melalui sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, akademisi, tenaga profesional, dan masyarakat, diharapkan tercipta lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Yayasan Kiandra Setia Bangsa menyatakan kesiapan untuk terus berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan dalam mendorong lahirnya kebijakan pendidikan yang lebih humanis, berkeadilan, serta menempatkan keselamatan dan kesejahteraan psikologis anak sebagai prioritas utama pembangunan pendidikan nasional.

Penulis            : Tim Litbang Yayasan Kiandra Setia Bangsa
Kategori         : Publikasi Ilmiah dan Edukasi Publik
Kontak           : Media Center Yayasan Kiandra Setia Bangsa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *