BENGKALIS – Peringatan Hari Jadi ke-514 Kabupaten Bengkalis yang dirangkai melalui agenda “Sepekan Kenduri Adat” menjadi momentum penting dalam memperkuat identitas budaya Melayu sekaligus memperkokoh arah pembangunan daerah yang berlandaskan nilai-nilai kearifan lokal. Momentum tersebut mendapat apresiasi dari Yayasan Kiandra Setia Bangsa, yang menilai bahwa pelestarian budaya harus ditempatkan sebagai bagian integral dari pembangunan sosial, pendidikan, ekonomi kreatif, dan penguatan karakter masyarakat. Ketua Umum Yayasan Kiandra Setia Bangsa, Mulyono Widiarta, S.T., menegaskan bahwa kebudayaan tidak boleh dipandang hanya sebagai warisan sejarah ataupun sekadar rangkaian kegiatan seremonial tahunan. Menurutnya, budaya merupakan fondasi strategis dalam membangun masyarakat yang berdaya saing sekaligus tetap menjaga jati dirinya. “Sepekan Kenduri Adat mempertegas bahwa kebudayaan Melayu bukan hanya cerita masa lalu, melainkan energi pembangunan untuk masa depan. Momentum ini harus menjadi awal dari kerja bersama yang berkelanjutan dalam menjaga sekaligus mengembangkan nilai-nilai budaya sebagai kekuatan pembangunan daerah,” ujar Mulyono dalam keterangan resminya. Kebudayaan sebagai Pilar Pembangunan Daerah Yayasan Kiandra Setia Bangsa memandang bahwa penyelenggaraan Sepekan Kenduri Adat memiliki nilai strategis yang dapat dilihat dari tiga perspektif utama. Pertama – membangun sitem monitoring digital berbasis Koordinat Dan QR code untuk Memantau pertyumbuhan serta kondisi kesehatan pohon secara berkala Kedua – mengembangkan program Adopsi Pohon dengan melibatkan pelajar, mahasiswa, komunitas lingkungan, dan masyarakat sebagai bagian dari pendidikan karakter dan kepedulian terhadap lingkungan. Ketiga – memperluas pengembangan Green Belt Berkelanjutan pada kawasan strategis milik pemerintah maupun swasta guna meningkatkan kualitas lingkungan hidup di Provinsi Riau. Tantangan Pelestarian Budaya Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan globalisasi, Yayasan Kiandra Setia Bangsa mengidentifikasi sejumlah tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama, antara lain: Menurunnya ketertarikan generasi muda terhadap budaya lokal. Belum optimalnya pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Masih terbatasnya dokumentasi dan digitalisasi warisan budaya. Perlunya penguatan regulasi serta kolaborasi lintas sektor dalam pemajuan kebudayaan. Menurut yayasan, tantangan tersebut membutuhkan langkah nyata agar budaya Melayu tetap relevan dan mampu menjadi bagian dari pembangunan masa depan. Lima Rekomendasi Strategis Sebagai bentuk komitmen terhadap pelestarian budaya, Yayasan Kiandra Setia Bangsa menyampaikan lima rekomendasi strategis kepada seluruh pemangku kepentingan. Pertama, mendorong digitalisasi warisan budaya melalui pembangunan perpustakaan digital yang memuat sejarah, adat istiadat, sastra, arsip, serta dokumentasi budaya Melayu Bengkalis. Kedua, memperkuat implementasi kurikulum muatan lokal dengan pembelajaran sejarah, seni, dan budaya Melayu yang lebih aplikatif di lingkungan pendidikan. Ketiga, meningkatkan daya saing UMKM berbasis budaya melalui pendampingan, sertifikasi produk, inovasi, serta perluasan pemasaran digital terhadap produk unggulan seperti tenun songket, kerajinan tangan, dan kuliner tradisional. Keempat, membangun pusat riset kebudayaan pesisir guna mendokumentasikan hukum adat, sejarah lokal, serta pengelolaan lingkungan berbasis kearifan masyarakat Melayu. Kelima, memperkuat regulasi melalui penyusunan Peraturan Daerah tentang Pemajuan Kebudayaan yang disertai mekanisme evaluasi berkala terhadap penyelenggaraan Kenduri Adat setiap tahunnya. Siap Menjadi Mitra Strategis Menutup keterangannya, Mulyono Widiarta menegaskan bahwa Yayasan Kiandra Setia Bangsa berkomitmen menjadi mitra strategis pemerintah daerah, akademisi, lembaga adat, komunitas budaya, serta seluruh elemen masyarakat dalam mewujudkan pembangunan yang berakar pada nilai-nilai budaya Melayu. “Yayasan Kiandra Setia Bangsa siap bergandengan tangan bersama Pemerintah Kabupaten Bengkalis, akademisi, tokoh adat, pelaku budaya, dan seluruh masyarakat untuk mewujudkan Bengkalis yang bermarwah, maju, berbudaya, dan sejahtera,” tegasnya. Melalui kolaborasi yang berkelanjutan, pelestarian budaya Melayu diharapkan tidak hanya menjadi simbol identitas daerah, tetapi juga menjadi fondasi pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat Kabupaten Bengkalis. Tim RedaksiMedia Center Yayasan Kiandra Setia Bangsa Penulis : Tim Litbang Yayasan Kiandra Setia BangsaKategori : Publikasi Ilmiah dan Edukasi PublikKontak : Media Center Yayasan Kiandra Setia Bangsa Post navigation Lanud Roesmin Nurjadin Hijaukan Kawasan Pangkalan, Yayasan Kiandra Setia Bangsa Dorong Sinergi Lintas Sektor untuk Kelestarian Lingkungan