JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memantau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Pulau Jawa, termasuk Kabupaten Kuningan dan Ciamis di Jawa Barat serta Kabupaten Grobogan di Jawa Tengah. Kondisi tersebut menjadi pengingat pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran vegetasi kering dan memperkuat upaya pencegahan berbasis masyarakat. Berdasarkan laporan perkembangan penanganan bencana yang diberitakan pada Minggu, 25 Oktober 2026, pemadaman di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, masih berlangsung hingga pukul 07.00 WIB. Sementara itu, kebakaran di Kabupaten Ciamis dan Grobogan dilaporkan telah berhasil dipadamkan. Pemantauan tetap diperlukan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kembali titik Penanganan Karhutla Membutuhkan Kesiapsiagaan Berkelanjutan Di Kabupaten Kuningan, kebakaran terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, tepatnya di Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, pada Rabu, 21 Oktober 2026. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Tim gabungan melakukan pemadaman secara manual dan melalui operasi pengeboman air (water bombing). Pemantauan menggunakan pesawat udara tanpa awak dan drone termal juga dilakukan untuk membantu mengidentifikasi titik api serta mendukung penentuan langkah penanganan. Sementara itu, kebakaran di Kabupaten Ciamis dilaporkan terjadi pada Jumat, 23 Oktober 2026, di Desa Pamalayan, Kecamatan Cijeungjing, serta Desa Cidolog dan Desa Ambit, Kecamatan Cidolog. Berdasarkan laporan awal, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 2,254 hektare. Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, kebakaran lahan juga menjadi perhatian dalam rangkaian pemantauan BNPB. Dalam perkembangan yang dilaporkan pada 25 Oktober, kebakaran di wilayah tersebut telah berhasil dipadamkan. Penanganan kejadian karhutla melibatkan koordinasi berbagai unsur, termasuk BPBD, petugas pemadam kebakaran, aparat setempat, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut diperlukan agar pemadaman dapat dilakukan secara cepat, sekaligus mencegah api meluas ke kawasan hutan, lahan pertanian, maupun permukiman. Cuaca Kering dan Aktivitas Manusia Perlu Diwaspadai Kebakaran hutan dan lahan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi vegetasi yang kering, cuaca, angin, serta aktivitas manusia. Pada kondisi tertentu, api yang awalnya kecil dapat meluas apabila tidak segera ditangani. Pembakaran sampah di dekat semak belukar, pembakaran sisa tanaman, dan pembukaan lahan dengan api merupakan aktivitas yang perlu dihindari, terutama ketika kondisi lingkungan meningkatkan risiko kebakaran. Selain merusak vegetasi dan habitat satwa, karhutla dapat menghasilkan asap yang mengganggu kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, serta orang dengan gangguan pernapasan, perlu mendapatkan perhatian khusus ketika terjadi paparan asap. Karena itu, pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan petugas pemadam. Kewaspadaan masyarakat, pengawasan kawasan rawan, penyampaian informasi secara cepat, dan kesiapan peralatan penanganan menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko bencana. Yayasan Kiandra Setia Bangsa Dorong Penguatan Mitigasi Menyikapi ancaman karhutla tersebut, Yayasan Kiandra Setia Bangsa mendorong penguatan edukasi lingkungan, kesiapsiagaan masyarakat, dan kolaborasi antara pemerintah, petugas penanggulangan bencana, organisasi sosial, serta masyarakat setempat. “Kelestarian alam merupakan tanggung jawab bersama. Mencegah kebakaran hutan dan lahan bukan hanya tugas petugas penanggulangan bencana, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat untuk menghindari aktivitas yang berisiko memicu api dan segera melaporkan apabila menemukan kebakaran.” Yayasan Kiandra Setia Bangsa memandang bahwa perlindungan lingkungan perlu berjalan seiring dengan perlindungan kesehatan dan keselamatan warga. Upaya pencegahan yang konsisten dapat membantu mengurangi kerusakan ekosistem sekaligus meminimalkan risiko sosial dan ekonomi akibat bencana. Sejumlah langkah yang perlu terus diperkuat meliputi: 1. Meningkatkan edukasi pencegahan karhutla. Masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar kawasan hutan dan lahan rawan kebakaran, perlu mendapatkan informasi mengenai bahaya pembakaran terbuka dan cara melaporkan kejadian secara cepat. 2. Memperkuat koordinasi lintas sektor. Pemerintah daerah, BPBD, petugas pemadam kebakaran, aparat keamanan, pengelola kawasan, relawan, dan masyarakat perlu membangun koordinasi yang efektif dalam pemantauan, pemadaman, serta pendinginan lokasi kebakaran. 3. Mengembangkan kesiapsiagaan berbasis masyarakat. Pemantauan lingkungan, penyediaan jalur komunikasi darurat, pengenalan titik rawan, dan pelatihan dasar keselamatan dapat membantu masyarakat merespons kejadian lebih awal. 4. Mendorong pemulihan lingkungan. Setelah kebakaran terkendali, pemulihan kawasan terdampak perlu dilakukan berdasarkan penilaian kondisi ekosistem. Penghijauan dan penanaman kembali harus disesuaikan dengan karakteristik serta kebutuhan ekologis kawasan. Langkah Masyarakat untuk Mencegah Kebakaran Pencegahan karhutla dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Tidak membakar sampah di dekat hutan, semak belukar, atau lahan kering. Tidak membuka lahan dengan cara membakar. Tidak meninggalkan api atau bara tanpa pengawasan. Segera melaporkan titik api kepada BPBD, pemadam kebakaran, atau aparat setempat. Tidak mendekati lokasi kebakaran tanpa perlindungan dan pelatihan yang memadai. Mengikuti informasi resmi dari BNPB, BPBD, BMKG, dan pemerintah daerah. Apabila terjadi kebakaran, masyarakat sebaiknya mengutamakan keselamatan diri dan mengikuti arahan petugas. Pemadaman mandiri hanya boleh dilakukan apabila api masih sangat kecil, situasi aman, dan tindakan tersebut tidak membahayakan orang yang terlibat. Menjaga Lingkungan, Melindungi Masa Depan Rangkaian kejadian karhutla di sejumlah wilayah Pulau Jawa menunjukkan pentingnya kesiapsiagaan yang berkelanjutan, baik pada tahap pencegahan, penanganan, maupun pemulihan lingkungan. Yayasan Kiandra Setia Bangsa mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kepedulian terhadap kelestarian alam melalui tindakan nyata, edukasi, dan kerja sama lintas sektor. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu melindungi kawasan hutan, menjaga kualitas lingkungan, dan mengurangi risiko terhadap keselamatan masyarakat. Menjaga hutan dan lahan dari ancaman kebakaran bukan sekadar upaya melindungi alam saat ini, melainkan juga bagian dari tanggung jawab bersama untuk mewariskan lingkungan yang aman dan lestari kepada generasi mendatang. MEDIA CENTER YAYASAN KIANDRA SETIA BANGSA Media Publikasi dan Himbauan Masyarakat Post navigation Mengarungi Dua Tahun Pemerintahan: Menyuarakan Jeritan Rakyat di Tengah Impitan Ekonomi Jaga Ekosistem Sungai Riau, PTPN IV PalmCo Teberkan 60 Ribu Bibit Ikan di 12 Wilayah PKS