Urgensi Penguatan Pokdarwis dan Dukungan Strategis bagi Bumi Perkemahan Gema

Desa Gema, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai salah satu destinasi ekowisata berbasis masyarakat yang bernilai strategis. Keindahan bentang alam, hamparan rerumputan hijau, hutan yang masih asri, serta kejernihan Sungai Subayang menjadi daya tarik utama yang semakin dikenal oleh masyarakat dan wisatawan.

Salah satu kawasan yang memiliki potensi tersebut adalah Bumi Perkemahan (Buper) Gema, yang berkembang sebagai lokasi camping ground dan wisata alam yang diminati, khususnya oleh keluarga, komunitas, generasi muda, dan pencinta kegiatan luar ruang.

Pertumbuhan kunjungan wisata tentu membawa peluang ekonomi bagi masyarakat. Namun, pada saat yang sama, peningkatan aktivitas wisata juga menghadirkan tanggung jawab yang tidak ringan. Semakin tinggi intensitas kunjungan, semakin besar pula kebutuhan terhadap tata kelola kawasan, perlindungan lingkungan, keselamatan wisatawan, serta distribusi manfaat ekonomi yang adil.

Karena itu, pengembangan Buper Gema tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan jumlah pengunjung. Pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring dengan perlindungan ekologi. Dalam konteks inilah penguatan kelembagaan masyarakat, termasuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), menjadi sangat penting.

Pariwisata sebagai Penggerak Ekonomi Masyarakat

Pengembangan camping ground di Buper Gema berpotensi memberikan efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian masyarakat sekitar.

Pertama, terbukanya lapangan kerja dan peluang usaha baru. Aktivitas wisata menciptakan kebutuhan terhadap berbagai jenis layanan, mulai dari pemandu lokal, pengelola parkir, penyewaan perlengkapan berkemah, jasa transportasi dan penyeberangan sungai, hingga jasa kebersihan dan pemeliharaan kawasan.

Kedua, pertumbuhan UMKM masyarakat lokal. Kehadiran wisatawan meningkatkan permintaan terhadap makanan, minuman, kebutuhan logistik, hasil pertanian dan perkebunan lokal, kerajinan, serta berbagai produk khas masyarakat. Apabila dikelola dengan baik, rantai ekonomi tersebut dapat menciptakan perputaran uang yang lebih banyak di tingkat desa.

Ketiga, diversifikasi sumber pendapatan masyarakat. Pariwisata dapat menjadi sumber pendapatan alternatif yang melengkapi sektor ekonomi masyarakat lainnya. Diversifikasi ini penting untuk memperkuat ketahanan ekonomi keluarga sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk berperan dalam pembangunan ekonomi desa.

Dengan demikian, Buper Gema tidak semata-mata dapat dipandang sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai ruang ekonomi masyarakat yang apabila dikelola secara inklusif dapat memberikan manfaat lebih luas.

Ekonomi Tumbuh, Ekologi Jangan Terabaikan

Di balik peluang ekonomi tersebut terdapat tantangan ekologis yang harus menjadi perhatian bersama.

Wisata alam memiliki hubungan yang sangat erat dengan kualitas lingkungan. Wisatawan datang karena sungai yang jernih, udara yang relatif bersih, hutan yang asri, serta suasana alam yang masih terjaga. Jika kualitas lingkungan tersebut mengalami penurunan, maka daya tarik wisata juga akan ikut menurun.

Dalam perspektif ini, alam bukan sekadar latar belakang kegiatan wisata, melainkan modal utama pariwisata itu sendiri.

Di satu sisi, aktivitas wisata dapat menjadi incentive for conservation atau insentif bagi masyarakat untuk menjaga lingkungan. Ketika kelestarian sungai dan hutan memberikan manfaat ekonomi, masyarakat memiliki alasan yang semakin kuat untuk mempertahankannya.

Semangat tersebut sejalan dengan berbagai bentuk kearifan lokal masyarakat, termasuk praktik Lubuk Larangan, yang mencerminkan kesadaran kolektif untuk menjaga sumber daya perairan dan keberlanjutan populasi ikan.

Namun, di sisi lain, peningkatan kunjungan tanpa tata kelola yang baik dapat menimbulkan persoalan baru. Sampah plastik, limbah domestik, penggunaan air dan fasilitas sanitasi yang tidak terkelola, kerusakan vegetasi akibat aktivitas kendaraan maupun pendirian tenda, serta potensi gangguan terhadap ekosistem sungai merupakan beberapa risiko yang perlu diantisipasi.

Karena itu, prinsip yang perlu dikedepankan adalah sederhana:

Semakin berkembang pariwisata, semakin kuat pula tanggung jawab untuk menjaga alam.

Pokdarwis sebagai Penggerak Wisata Berbasis Masyarakat

Dalam pengembangan destinasi wisata berbasis masyarakat, keberadaan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) memiliki posisi strategis.

Pokdarwis bukan sekadar kelompok yang membantu menerima wisatawan. Lebih dari itu, Pokdarwis dapat menjadi wadah masyarakat untuk membangun tata kelola destinasi, meningkatkan kesadaran wisata, memperkuat pelayanan, serta memastikan bahwa manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan oleh masyarakat secara lebih luas.

1. Penataan Kawasan dan Zonasi

Pengelolaan kawasan tepi Sungai Subayang membutuhkan penataan ruang yang jelas.

Pembagian kawasan dapat diarahkan berdasarkan fungsi, misalnya area konservasi dan perlindungan sempadan sungai, area perkemahan, area aktivitas wisata, area usaha masyarakat, serta area fasilitas umum dan sanitasi.

Penataan semacam ini penting agar aktivitas wisata tidak berkembang secara tidak terkendali dan tetap memperhatikan daya dukung lingkungan.

2. Edukasi Wisatawan dan Pengelolaan Sampah

Pokdarwis dapat menjadi ujung tombak edukasi bagi setiap pengunjung.

Prinsip “datang membawa sampah, pulang membawa kembali sampah” dapat terus dikampanyekan sebagai bagian dari budaya wisata di Buper Gema. Pada saat yang sama, penyediaan tempat sampah terpilah, titik pengumpulan sampah, jadwal kebersihan, serta mekanisme pengangkutan dan pengolahan sampah perlu dirancang secara terpadu.

Edukasi lingkungan juga dapat dimasukkan dalam informasi tiket, papan imbauan, media sosial, maupun pengarahan singkat sebelum wisatawan memasuki kawasan.

3. Membangun Pelayanan Wisata yang Profesional

Keramahan masyarakat merupakan modal penting dalam pengembangan destinasi.

Namun, keramahan perlu didukung dengan standar pelayanan yang jelas, termasuk informasi harga, sistem reservasi, kebersihan fasilitas, keamanan, pelayanan pengunjung, hingga mekanisme pengaduan.

Digitalisasi juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung sistem reservasi, pembayaran non-tunai, promosi destinasi, serta penyebaran informasi kepada calon wisatawan.

4. Memastikan Manfaat Ekonomi Lebih Merata

Pengembangan pariwisata hendaknya tidak hanya menguntungkan sebagian kecil pihak.

Kelembagaan Pokdarwis dapat membantu membangun mekanisme kerja sama yang transparan antara pengelola, pelaku UMKM, pemuda, masyarakat, dan pihak-pihak lain yang terlibat.

Semakin banyak masyarakat yang memperoleh manfaat dari pariwisata, semakin kuat pula rasa memiliki terhadap destinasi tersebut.

Dukungan Strategis Yayasan Kiandra Setia Bangsa

Yayasan Kiandra Setia Bangsa menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Desa Gema, para pemuda, pelaku usaha lokal, pengelola wisata, serta berbagai pihak yang telah berkontribusi dalam mengembangkan potensi Bumi Perkemahan Gema.

Inisiatif masyarakat dalam menghidupkan kegiatan wisata di tepian Sungai Subayang merupakan modal sosial yang sangat berharga.

Yayasan Kiandra Setia Bangsa memandang bahwa pengembangan Buper Gema perlu diarahkan pada prinsip pariwisata berkelanjutan, berbasis masyarakat, ramah lingkungan, aman, dan memberikan manfaat ekonomi yang berkeadilan.

Sebagai bentuk dukungan, Yayasan membuka ruang kolaborasi dan pendampingan dalam sejumlah aspek yang relevan, antara lain:

Peningkatan Standar Pelayanan (Hospitality)

Mendorong peningkatan kapasitas pelaku wisata dalam memberikan pelayanan yang ramah, aman, informatif, dan profesional.

Pengembangan sistem reservasi digital dan pembayaran non-tunai juga dapat menjadi bagian dari transformasi pelayanan agar pengelolaan wisata semakin transparan dan mudah diakses masyarakat.

Penguatan Kebersihan dan Pengelolaan Sampah

Mendorong terbentuknya sistem kebersihan kawasan yang terukur, mulai dari penyediaan tempat sampah di titik-titik strategis, edukasi pengunjung, pengumpulan, pengangkutan, hingga pengelolaan sampah secara bertanggung jawab.

Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat kawasan terlihat bersih, tetapi mencegah sampah dan limbah mencemari ekosistem Sungai Subayang.

Fasilitas Dasar dan Keselamatan Wisatawan

Pengembangan destinasi juga perlu memperhatikan kebutuhan dasar pengunjung, seperti ketersediaan air bersih, toilet yang layak, penerangan yang aman dan hemat energi, jalur akses, papan informasi, serta prosedur keselamatan dan penanganan keadaan darurat.

Keselamatan pengunjung harus menjadi bagian integral dari standar pengelolaan destinasi wisata alam.

Pemerintah Daerah Perlu Hadir Memperkuat Kepastian Tata Kelola

Pengembangan Buper Gema tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada masyarakat dan pengelola lokal.

Pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam memastikan aspek legalitas, tata ruang, infrastruktur, lingkungan, keselamatan, serta tata kelola penerimaan daerah dan desa berjalan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Karena itu, Yayasan Kiandra Setia Bangsa mendorong adanya perhatian dan koordinasi yang lebih kuat antara Pemerintah Kabupaten Kampar, Pemerintah Desa Gema, masyarakat, Pokdarwis, serta pemangku kepentingan terkait.

Kepastian Status dan Tata Kelola Kawasan

Kejelasan status kawasan merupakan fondasi penting bagi pengembangan wisata berkelanjutan.

Sebelum pengembangan fasilitas dan investasi dilakukan secara lebih luas, aspek legalitas lahan, kesesuaian tata ruang, status kawasan, perlindungan sempadan sungai, perizinan, serta kewenangan pengelolaan perlu dipastikan secara transparan dan sesuai regulasi.

Kepastian tersebut akan memberikan perlindungan bagi masyarakat sekaligus menciptakan iklim yang sehat bagi pengembangan usaha wisata.

Pengelolaan Penerimaan yang Transparan dan Akuntabel

Setiap bentuk tiket masuk, retribusi, kontribusi, maupun penerimaan lainnya perlu memiliki dasar hukum dan mekanisme pengelolaan yang jelas.

Dengan tata kelola yang transparan, penerimaan dari aktivitas wisata dapat memberikan manfaat bagi pembangunan kawasan, masyarakat, desa, dan pemerintah daerah sesuai kewenangan serta ketentuan yang berlaku.

Prinsip utamanya adalah tidak boleh ada pungutan yang tidak jelas dasar dan peruntukannya.

Infrastruktur dan Investasi Hijau

Dukungan pemerintah juga diperlukan untuk membangun infrastruktur dasar yang sesuai karakter kawasan, termasuk aksesibilitas, sanitasi, pengelolaan sampah, keselamatan wisatawan, jaringan komunikasi, serta fasilitas pendukung lainnya.

Pengembangan infrastruktur hendaknya tetap memperhatikan daya dukung lingkungan agar pembangunan tidak justru menghilangkan keunggulan alam yang menjadi aset utama Buper Gema.

Membangun Buper Gema sebagai Model Ekowisata Berbasis Masyarakat

Buper Gema memiliki peluang untuk berkembang lebih jauh apabila seluruh pihak mampu menempatkan kepentingan ekonomi dan ekologi dalam satu kerangka pembangunan.

Masyarakat membutuhkan peningkatan pendapatan. Pemerintah membutuhkan pertumbuhan ekonomi daerah dan desa. Pelaku usaha membutuhkan kepastian usaha. Wisatawan membutuhkan pengalaman yang aman dan nyaman. Sementara alam membutuhkan perlindungan.

Kelima kepentingan tersebut tidak harus dipertentangkan.

Justru melalui tata kelola yang baik, semuanya dapat ditempatkan dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

Karena itu, pengembangan Buper Gema sebaiknya tidak semata-mata menggunakan ukuran jumlah wisatawan. Indikator keberhasilannya juga perlu mencakup:

  • meningkatnya pendapatan dan kesempatan usaha masyarakat lokal;
  • meningkatnya kualitas pelayanan wisata;
  • berkurangnya volume sampah dan pencemaran lingkungan;
  • terjaganya kualitas Sungai Subayang dan kawasan sekitarnya;
  • meningkatnya keselamatan wisatawan;
  • terbentuknya kelembagaan pengelola yang transparan dan profesional; serta
  • semakin kuatnya partisipasi masyarakat dalam menjaga kawasan.

Seruan Kolaborasi untuk Menjaga Sungai Subayang

Bumi Perkemahan Gema bukan hanya tempat untuk mendirikan tenda dan menikmati panorama alam. Ia merupakan bagian dari ruang hidup masyarakat dan salah satu wajah potensi ekowisata Kabupaten Kampar.

Oleh sebab itu, menjaga Buper Gema berarti menjaga sumber ekonomi masyarakat sekaligus menjaga warisan alam untuk generasi berikutnya.

Yayasan Kiandra Setia Bangsa mengajak masyarakat, Pokdarwis, pelaku UMKM, komunitas, pemerintah desa, Pemerintah Kabupaten Kampar, pemerintah provinsi, dunia usaha, serta seluruh pengunjung untuk membangun budaya wisata yang bertanggung jawab.

Kepada wisatawan, mari menikmati alam tanpa meninggalkan kerusakan.

Bawa pulang sampah Anda. Gunakan fasilitas secara bertanggung jawab. Hormati masyarakat dan kearifan lokal. Jangan mencemari sungai. Jangan merusak vegetasi. Utamakan keselamatan.

Kepada masyarakat dan pelaku usaha, mari menjadikan keramahtamahan, kebersihan, transparansi, dan kelestarian lingkungan sebagai bagian dari identitas wisata Gema.

Kepada para pemuda, mari melihat pariwisata bukan hanya sebagai tempat mencari penghasilan, tetapi juga sebagai ruang untuk membangun masa depan desa.

Dan kepada pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan, mari menghadirkan regulasi, pendampingan, infrastruktur, dan kepastian tata kelola yang mampu menjadikan potensi wisata masyarakat berkembang secara sehat dan berkelanjutan.

Penutup

Bumi Perkemahan Gema dan Sungai Subayang memiliki kesempatan besar untuk menjadi contoh bahwa ekonomi masyarakat dan kelestarian alam dapat tumbuh bersama.

Kuncinya adalah tata kelola.

Pokdarwis yang kuat, masyarakat yang sadar wisata, pelaku usaha yang bertanggung jawab, pemerintah yang hadir melalui regulasi dan pelayanan publik, serta dukungan berbagai lembaga sosial merupakan fondasi yang dapat mengantarkan Buper Gema menjadi destinasi ekowisata yang berdaya saing sekaligus berkelanjutan.

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan wisata bukanlah ketika alam mampu menghasilkan uang sebanyak-banyaknya, melainkan ketika manfaat ekonomi dapat dirasakan masyarakat tanpa membuat alam kehilangan kemampuan untuk menopang kehidupan generasi yang akan datang.

Menjaga Sungai Subayang berarti menjaga kehidupan.
Mengembangkan Gema berarti membangun masa depan masyarakatnya.


Penulis: Tim Litbang Yayasan Kiandra Setia Bangsa
Media Publikasi: Media Center Yayasan Kiandra Setia Bangsa
Kategori: Edukasi Publik | Ekowisata | Pemberdayaan Masyarakat | Lingkungan
Wilayah: Desa Gema, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Riau

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *