PEKANBARU – Hasil pemetaan digital terbaru yang dilakukan oleh Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan Daerah (Pusdal Karhutla) Wilayah Sumatera Manggala Agni, Kementerian Kehutanan RI, menunjukkan lonjakan signifikan luas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Luas area terdampak yang awalnya diperkirakan 20 hektare, kini secara resmi terverifikasi mencapai 64 hektare.

Kepala Stasiun Dalkarhut Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengungkapkan bahwa operasi pemadaman di Desa Kerumutan telah memasuki hari ketujuh. Petugas di lapangan menghadapi hambatan berat berupa vegetasi bahan bakar padat, jarak tempuh yang jauh, serta aksesibilitas yang terbatas.

“Dibutuhkan waktu sekitar 45 menit menggunakan kendaraan roda dua untuk menempuh jarak 1,5 kilometer menuju pusat kebakaran. Alat berat saat ini telah diturunkan untuk memobilisasi pembukaan jalur akses, pembuatan sekat bakar (firebreak), dan penyiapan kantong air,” ujar Ferdian dalam keterangan resminya.

Selain di SM Kerumutan, kebakaran juga meluas ke beberapa titik lain di Riau:

  • Desa Mak Teduh, Kecamatan Kerumutan (Pelalawan): Kebakaran membakar area seluas 10 hektare dan telah memasuki hari ketiga penanganan. Tim fokus pada tahap pendinginan (cooling down) untuk memadamkan bara api tersisa, meski terkendala akses kanal yang terputus sehingga personel harus memutar berjalan kaki sejauh 2 kilometer.
  • Desa Sungai Guntung Hilir, Kabupaten Indragiri Hulu: Karhutla melanda area seluas 20 hektare. Petugas menghadapi tantangan berupa asap tebal, angin kencang, dan menyusutnya sumber air. Pemadaman dilakukan mengandalkan bentangan selang hingga 600 meter dari kantong air sisi selatan, sembari menunggu bantuan alat berat untuk membuat akses ke sisi utara titik api.

Untuk menanggulangi situasi yang kian mengkhawatirkan ini, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga terus digencarkan dengan target wilayah Pelalawan, Siak, Indragiri Hilir, dan Kepulauan Meranti.

Tanggapan Yayasan Kiandra Setia Bangsa

Menanggapi eskalasi bencana Karhutla yang meluas hingga puluhan hektare di bentang alam Kerumutan dan sekitarnya, Ketua Yayasan Kiandra Setia Bangsa, Mulyono Widiarta, S.T., menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus menyerukan perlunya evaluasi mendasar terhadap tata kelola pencegahan Karhutla di Riau.

“Angka 64 hektare di Kerumutan bukan sekadar statistik, melainkan peringatan keras bagi ekosistem gambut dan keanekaragaman hayati kita. Penanganan di lapangan oleh Manggala Agni amat kita apresiasi, namun pola penanganan yang bersifat reaktif saat api sudah membesar dan meluas membuktikan bahwa sistem peringatan dini serta akses mitigasi kita masih memiliki celah kritis,” tegas Mulyono Widiarta.

Mulyono menyoroti tiga poin strategis yang perlu menjadi fokus diskusi publik dan kebijakan bersama:

  1. Penguatan Sistem Peringatan dan Pemetaan Dini (Pemerintah & Akademisi): Perubahan estimasi luas dari 20 hektare menjadi 64 hektare menunjukkan pentingnya integrasi teknologi pemantauan berbasis satelit dan drone secara real-time. Akademisi diharapkan dapat menyumbang riset terapan terkait pemodelan sebaran api dan kelembapan gambut untuk membantu pengambilan keputusan cepat.
  2. Kemandirian Infrastruktur Air dan Aksesibilitas (Pemerintah & Swasta): Masalah krisis air dan terputusnya akses jalan yang kerap berulang di kawasan rawan harus diselesaikan secara permanen melalui pembangunan sekat kanal terencana, embung cadangan, dan peta jalur evakuasi pemadam.
  3. Pemberdayaan Masyarakat Lokal (Masyarakat & LSM): Masyarakat di sekitar kawasan konservasi Kerumutan dan Indragiri Hulu harus ditempatkan sebagai benteng utama pencegahan melalui edukasi pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) serta penguatan Kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA).

“Yayasan Kiandra Setia Bangsa mendorong terbentuknya ruang dialog konstruktif antara pemerintah daerah, akademisi, pemangku kepentingan industri, dan masyarakat adat/lokal. Kita tidak bisa terus mengandalkan hujan buatan atau membiarkan petugas bertaruh nyawa menembus belantara tanpa infrastruktur pendukung yang memadai. Penanganan Karhutla harus bergeser secara total dari suppression (pemadaman) ke prevention (pencegahan berbasis sains dan komunitas),” pungkas Mulyono.

Artikel ini diterbitkan oleh Media Yayasan Kiandra Setia Bangsa sebagai bahan pemantik diskusi lintas sektor demi mewujudkan tata kelola lingkungan hidup yang berkelanjutan di Riau.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *